Rabu, 31 Desember 2014

Cahaya Kedua

Lima belas menit sudah aku menunggu sejak pukul 10.00 WIB, akhirnya bus yang akan mengantarkanku ke pekalongan tiba juga. Kulangkahkan kakiku yang lemah ini menuju nomor kursi bus seperti tertera dalam karcis, 26. Inilah kursi yang menjadi hakku sampai aku tiba ke lokasi tujuan. Sengaja kupilih bus patas supaya perjalananku nyaman, tanpa harus mengkhawatirkan adanya asap rokok yang berbaur dengan udara yang aku hirup untuk pernapasan. Di usia kelima puluh satu ini, aku semakin menyanyangi anggota badanku yang fungsinya sudah mulai menurun dimakan waktu. Kan kujaga amanah Allah berupa badan pelekat jiwaku ini.
Semua penumpang telah siap di posisinya masing-masing. Bus mulai melaju pelan dan menambah kecepatannya sedikit demi sedikit. Kupandangi pepohonan di tepi jalan.  Lalu kupindahkan pandanganku ke samping kanan, ada seorang gadis belia yang sibuk dengan buku di tangan kanannya. Ingin kusapa dia, tapi aku takut mengganggu aktivitasnya, sudahlah, kuurungkan saja niatku. Kembali kupandangi pemandangan lewat jendela. Kini kudapati sawah yang terbentang luas lengkap dengan pegunungan di ujungnya.
“Subhanallah, indah ya bu.”
Terdengar suara lembut di telingaku. Ternyata suara itu berasal dari gadis berkulit sawo matang di sampingku. Bola matanya begitu jernih. Bulu matanya lentik. Tangannya terlihat sudah tidak memegang buku.
“Iya nduk, bagus.” Sahutku lumayan kaget.
“Sungguh tiada duanya, semua ciptaan Allah SWT luar biasa. Aku bangga menjadi hambaNya.” Ujarnya dengan lembut ditaburi senyuman indah di bibirnya, sehingga menambah manis parasnya yang biasa itu. 
“Mbak sendirian?” Tanyaku.
“Iya, bu.”
“Kuliah nggih?”
“Tidak, bu, masih kelas tiga SMA.” Jawabnya.
“Sekolah di mana, nduk?”
“SMA Negeri 3 Semarang.”
“Owalah, cah pinter iki?” Kagumku.
“Kenapa, bu?”
“Kamu ini pintar ya, nduk?”
“Tidak, bu. Saya tidak pintar. Cuma berusaha menjadi orang pintar.” Senyum malu-malu itu masih melekat erat di wajahnya, “Kalau saya boleh tahu, Ibu dari mana dan mau ke mana?”
“Saya baru menghadiri pameran batik karya anak saya di hotel Pandanaran, ini mau pulang ke Pekalongan.”
Perbincangan kami terus berlangsung dan terhenti seketika, begitu ada dentuman keras terdengar di telingaku ini. Oh, mengapa mataku sakit sekali? Dunia berubah, yang dapat kulihat kini hanyalah kegelapan. Dan sepertinya bumi tidak dapat lagi kurasakan kehadirannya.
¤¤¤¤¤
Saraf tanganku merasakan kedinginan, saraf-saraf tubuhku lainnya pun mengikuti. Kubuka kedua belah mataku pelan-pelan dan kupastikan semua benda di sekitarku dapat tertangkap oleh mataku. Betapa terkejutnya aku, ruangan yang kutempati sekarang lebih mirip dengan rumah sakit!
Anam, bukankah itu anam? Iya, tidak salah lagi. Dia anam, anakku, mengapa dia tidur di kursi sudut ruangan ini? Bukankah ia harus mengawasi pamerannya yang berlangsung satu minggu? Apa dentuman keras itu mengakibatkan efek yang luar biasa padaku sehingga anakku harus menjagaku sampai sedemikian rupa?
Dia terbangun dari tidurnya dan berhambur cepat menuju tempat tidurku bak elang menyambar mangsanya. Tatapan matanya berbinar-binar memandangku tanpa henti.  Luapan kebahagiaannya sungguh luar biasa.
“Akhirnya ibu siuman juga.” Suara yang bergetar itu ikut menggetarkan hatiku.
“Ada apa sih, le? Ibu kenapa?”
“Ibu tak sadarkan diri sejak kecelakaan di Alas Roban kemarin. Sopir kehilangan kendali dan bus yang ibu tumpangi terguling ke kiri badan jalan. Kemudian, Ibu dilarikan ke rumah sakit Siti Khadijah.”
“Kecelakaan? Terus bagaimana penumpang yang lain?”
“Alhamdulillah semuanya selamat. Hanya beberapa korban yang luka berat termasuk ibu.”
“Luka berat bagaimana tho, le. Lha ibu jelas-jelas sehat begini kok.”
“Iya, sekarang ibu istirahat dulu saja. Dokter sudah memperbolehkan ibu pulang besok. Tapi, lebih baik pulang lusa saja. Anam mau memastikan kesehatan ibu sudah pulih benar.”
“Nggih, cah manangku sing bagus pisan. Terus, bagaimana pameranmu?”
“Tenang, bu. Sudah ada yang menghandle.”
Terima kasih ya allah, Engkau telah menganugerahkan kepadaku anak yang sangat menyanyangiku. Terima kasih suamiku, engkau telah memahatkan cintamu padaku dan pada putramu. Meski kini kau telah mendahuluiku untuk menemuiNya, namun pengabdianku padamu kan terus mengalir melalui do’a, dan kudidik buah hati kita menjadi anak sholeh yang juga kan mengalirkan do’anya padamu tiada henti. Semoga kuburmu dilingkupi cahayaNya. Semoga Allah mempertemukan kita sekeluarga di JannahNya. Amiin.
¤¤¤¤¤
“Apa! Mengapa kamu tidak memberitahukan Ibu perihal ini sejak dulu! Sedangkan kamu juga tidak mengucapkan terima kasih padanya!”  Marahku tak tertahan. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa membalas kebaikan gadis itu? Ia pasti sangat menderita.
“Maafkan anam, bu. Kata dokter, kedua bola mata ibu tertancap oleh serpihan kaca. Jika Ibu tidak segera memperoleh mata donor, ibu akan buta selamanya. Anak perempuan yang mengantarkan ibu langsung menawarkan kedua bola matanya untuk ibu. Namun, ia tidak mau mencamtumkan identitasnya dalam data pendonor. Hanya tulisan ‘Hamba Allah di Bumi Allah’ yang tercantum di sana. Setelah ibu selesai dioperasi, ia langsung pulang ke rumahnya diantar pihak rumah sakit. Anam baru mendapat kabar mengenai Ibu beberapa jam kemudian, untuk mengurus administrasi Ibu.”
Bagaimana aku bisa membalas jasa yang luar biasa ini kepada gadis itu? Kita berdua baru sekali jumpa, namun pengorbanan yang ia lakukan untukku melebihi pengorbanan kerabat dekat, bahkan lebih dari itu. Karena tidak semua kerabat mau menolong saudaranya yang sedang tertimpa kesusahan. Meskipun Allah telah menjanjikan surga kepada orang yang ikhlas memberikan pertolongan kepada saudaranya.
Bagaimana aku bisa menemukannya? Aku harus membalas jasanya! Mata ini adalah matanya. Mata gadis muda. Mata yang jernih, yang tidak semua orang memilikinya. Ini adalah mata yang ia gunakan untuk membaca, melihat fenomena kehidupan. Kini, ia dalam kegelapan. Aku telah mencabut kebahagiaan darinya! Mengapa ia mau melakukan ini?
Air mataku berderai membasahi pipiku yang telah mengerut. Andai sopir itu tidak lepas kendali! Andai tidak ada serpihan kaca yang masuk ke mataku! Ah, aku tidak boleh menyalahkan orang lain atau apapun. Semuanya telah tercatat dalam kitab Lauhul MahfudzNya.
Anam mendekatiku dan mengelus pundakku. Ia berusaha menenangkanku yang larut dalam kesedihan.
“Apa ibu mengetahui sesuatu hal darinya yang bisa menunjukkan kepada kita tentang keberadaannya?” Anam melontarkan pertanyaan yang menggiringku pada peristiwa sebulan yang lalu.
“Entah, daya ingat ibu melemah.”
“Pasti ada kan, bu. Mungkin nama, atau barang-barang yang ia bawa seperti apa?”
“Ibu lupa. Sepertinya ibu tidak sempat menanyakan nama padanya meski kita berdua berbincang cukup lama. Awal melihatnya, ia sedang membaca buku”
“Ibu berbincang dengannya? Coba ibu ingat betul-betul, apa saja yang ia sampaikan kepada ibu.”
“Iya. Ibu akan mencoba.” Aku harus memusatkan konsentrasiku. Aku harus menemukan kata kunci dari sekian kata yang sempat gadis itu ucapkan. Akhirnya ada sebuah titik terang di sana.
“Anam, ibu ingat satu hal.”
“Apa itu, bu?”
“Gadis itu masih sekolah, kelas tiga di SMA N 3 Semarang.”
“Ibu yakin?” Tanya anam agak ragu.
“Iya, ibu yakin betul. Waktu itu ibu bilang padanya kalau ia itu anak pintar. Tapi gadis itu tidak mau mengakui. Padahal jelas-jelas ia sekolah di SMA Favorit, SMAmu dulu, le.”
“Kalau begitu. Sekarang kita ke Semarang, bu. Nanti ke kantor anam dulu. Besoknya kita ke SMA N 3.”
“Iya, le. Semoga Allah mempermudah jalan kita untuk menemukan gadis itu.”
¤¤¤¤¤
Apa yang terjadi tidak sesuai harapan. Manusia harus berikhtiar, namun Allahlah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Awalnya aku menyangka akan segera menemukan gadis itu. Namun, Allah berkehendak lain. Hanya selembar kertas bertuliskan alamat Yayasan Yatim Piatu yang kuperoleh. Di kertas itu juga tertulis nama gadis itu, Faza Nazila. Kepala SMA N 3 tidak mau menjelaskan alasan mengapa Zila mengundurkan diri dari sekolahnya, padahal pihak sekolah akan memberikan keringanan padanya saat Ujian Nasional nanti dengan dibantu pemblokkan jawaban yang ia pilih ke dalam lembar jawab. Namun, Zila menolak.
Aku tak akan menyerah untuk mencarinya. Seperti Zila yang tidak menyerah pada hiruk pikuk kehidupan tanpa didampingi kedua orang tua kandungnya dari entah kapan sampai saat ini, tak ada satupun kaum kerabatnya yang mau merawatnya.
Allah benar-benar menguji kesabaranku. Sesampainya di Yayasan yatim piatu di Kota Kuningan, tempat gadis itu dididik dan dibina, hasilnya nihil. Ia sudah pindah ke Yayasan Tuna netra di Kota Lamongan. Yaa Allah, yaa Rabbku, beri aku kekuatan untuk bisa melanjutkan pencarian ini.
¤¤¤¤¤
Terima kasih Allah, Engkau telah mengabulkan harapanku. Aku percaya bahwa Engkau pasti mengabulkan do’a tiap-tiap hamba-Mu sesuai waktu yang telah Engkau tetapkan.
Mulai kulihat gapura SELAMAT DATANG DI KOTA LAMONGAN hingga memasuki kota itu hatiku berdegup kencang. Entah apa yang terjadi. Degupan itu makin kencang saat kutemukan sebuah gedung dengan plang bertuliskan YAYASAN TUNA NETRA NURUL ‘ILMI. Seorang wanita paruh baya menyambut kami, setelah Anam menjelaskan maksud kami datang ke yayasan ini, wanita itu mengantarkan kami menuju ruangan yang dipenuhi remaja-remaja putri yang sedang belajar huruf Braille. Dan di antara remaja puteri berjilbab hijau muda itu, ada seorang gadis yang kukenali. Zila. Rasa haruku mendesak kelenjar air mata untuk mengeluarkan butiran-butiran jernih. Apa yang kucari kini telah nampak di pelupuk mata.
“Faza nazila…..” isakku seraya kuraih tubuhnya itu.
“Ibu, kok bisa sampai sini? Ada apa?” tanyanya polos. Ia masih mengenali suaraku.
“Aku mencarimu, nduk. Mengapa kamu mau berkorban demi Ibu?” derai air mata ini tak mau berhenti.
“Ibu…. Sudah sepantasnya saya membantu orang yang sedang membutuhkan. Kala itu, Ibu sangat membutuhkan bantuan.” Jelasnya.
“Tapi, kau telah melukai dirimu sendiri, nduk.”
“Zila tidak melukai diri sendiri, bu. Zila malah mengobati diri Zila. Zila semakin peka terhadap kehidupan ini. Zila dapat semakin bersyukur sama Allah. Zila ingin membantu orang lain sesuai kemampuan Zila. Karena kala itu, kemampuan Zila adalah Zila sendiri, jadi kuserahkan anggota tubuh Zila yang dibutuhkan Ibu. Yang kuharapkan hanyalah ridho Allah, bukan selainnya” Terangnya dengan senyum indah yang masih sama seperti pertama kali bertemu dengannya. Manis. Sejuk.
“Terima kasih, nduk. Kau telah berkorban untuk menciptakan cahaya kedua dalam hidup ibu.”
Semua rasa telah tercampur aduk dalam mangkuk jiwaku. Zila telah mengajarkanku-ibu berumur 51 tahun- arti sebuah pengorbanan tanpa pamrih. Semoga Allah membalas amal baikmu dengan Jannah-Nya. Amiin.
Meskipun kuberikan seluruh hartaku untuk Zila, namun tidak akan sanggup melunasi hutangku padanya. Namun, aku berniat untuk membiayai kuliah Zila nanti. Ia pernah mengatakan saat di bus, kalau ia ingin menjadi guru di Sekolah Luar Biasa. Di sekolah itu, ia bisa lebih dekat dengan anak-anak yang memilki keterbatasan, menurutnya mereka mempunyai kemampuan melebihi manusia normal. Di saat yang lain menjauhi orang-orang yang terbelakang, Zila justru mendekat pada mereka dan menyentuh mereka dengan nilai-nilai kebaikan. Dan aku harus mewujudkan keinginannya itu.

Kuharap juga, Anam bersedia bersanding dengannya kelak. Sehingga aku lebih dekat dengannya. Aku tahu, Anam bukanlah tipe lelaki yang melihat manusia dari sisi fisiknya saja, yang lebih ia utamakan adalah kelembutan hati dan kekuatan akidah manusia itu. Semoga harapan-harapanku ini juga akan dikabulkan Allah SWT, kapanpun waktunya. Karena aku tahu, Allah lebih mengetahui apapun yang terbaik untuk hamba-Nya.

Sebaik-baik Manusia

Syifa sudah tidak kuat membendung air matanya. Ia ingin segera mengusap buliran air yang terus menetes di pipi emaknya, Mak Zaitun. Syifa hanya dapat menatap sosok lemah berbalut mukena itu melalui celah pagar kayu pembatas antara kamarnya dengan kamar emaknya. Setiap sepertiga malam, isak tangis Mak Zaitun seolah menjadi ritual.
“Yaa Allah, kuatkanlah jiwa emakku.” gumam Syifa lantas menatap adik tirinya yang terlelap.
Matahari telah mengusir kegelapan secara perlahan. Ayam bertahta di atas pagar rumah.  Mak Zaitun tengah sibuk menyelami lautan aktivitas rumah tangga.
“Uuuhh, piye to? Sudah siang nih, mak. Sarapannya belum jadi juga. Aku berangkat saja!!! Tidak mau sarapan!!! Mana uang sakunya?!!” bentak Khoirunnas, adik tiri Syifa yang biasa dipanggil Irun. Rambutnya acak-acakan dan tidak mau disisir. Kenakalan dan kekasaran Irun berbeda dengan anak-anak seusianya. Syifa dan Mak Zaitun terus bersabar menghadapinya.
“Emak belum dapat uang gaji dari majikan, le?”
“Biasa! Bosen aku sama jawaban itu. Emak kerjanya mbatik tok sih! Uang kita kan jadinya sedikit, tidak nambah-nambah.”
Inilah gambaran keluarga Mak Zaitun semenjak Pak Karjo berpulang ke rahmatullah. Syifa juga turut membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dia lebih memilih putus sekolah supaya biaya pendidikan berkurang dan ia dapat fokus bekerja untuk membiayai sekolah adiknya yang masih duduk di kelas 6 SD.
٭٭٭
Tahun lalu, setelah meninggalnya Pak Karjo, ayah Irun, Irun terus mengurung diri di dalam kamarnya. Sulit sekali diajak makan, minum, apalagi mandi. Dia sangat terpukul atas kejadian yang menimpa ayahnya. Karena menurutnya, hanya ayahnya yang menjadi bagian keluarganya. Pak Karjo menikah dengan Mak Zaitun saat usia Irun masih 5 tahun. Syifa menjadi kakak tiri Irun. Selisih 2 tahun.
“Ini kamarku, kamu tidak boleh masuk!!? Pergi dari rumah bapakku!!! Sana, sana, sana. Husyyyy!!!” bentak Irun kepada Syifa suatu waktu, saat Pak Karjo meminta mereka untuk berbagi kamar tidur. Maklum, rumah Pak Karjo sangat sederhana. Hanya ada 2 kamar tidur. Alas rumah juga masih berupa tanah. Meskipun alas rumah milik tetangga mereka sudah berkeramik semuanya. Syifa hanya diam dan mengikuti perintah adiknya. Alhasil, malam itu, Syifa tidur di ruang tamu beralaskan tikar pandan dan bertemankan angin malam yang menusuk kulitnya yang sawo matang.
٭٭٭
Hari berganti hari, Syifa semakin bersemangat untuk bekerja. Irun akhirnya mau dimasukkan ke pesantren Nurul Iman setelah sekian bulan lamanya dari kelulusan SD, Irun hanya bermain-main di rumah ngalor-ngidul-ngetan-ngulon tidak jelas.
“Alhamdulillah, Nduk. Adikmu sekarang masuk ke lingkungan orang sholeh. Pesantren. Semoga dia bisa menjadi anak Sholeh.” Mata Mak Zaitun tampak berkaca-kaca.
“Nggih, Mak. Syifa juga turut senang dan bahagia. Ternyata Allah sangat mudah untuk membolak-balikan hati manusia termasuk tole Irun.” tambah Syifa.
Selang beberapa bulan, impian yang memukau itu buyar tersapu badai besar. Irun dikeluarkan dari pesantren, kenakalannya membuat seluruh penghuni pesantren kebakaran jenggot.
Koki pesantren geram, makan siang yang dengan sepenuh hati akan ia hidangkan kepada  para santri, dibubuhi 3 kg garam oleh Irun ketika dapur sepi tidak ada yang menjaga. Tempat tidur teman sekamarnya sering dia basahi dengan air seember. Irun di-black list oleh pesantren, dan dikembalikan ke keluarganya.
٭٭٭
Pupus sudah semua angan, Mak Zaitun dan Syifa kembali diteror oleh tingkah Irun. Entah kapan kenakalan anak itu akan berakhir.
“Sing sabar yo, Mak. Gusti Allah bakal maringi dalan. Kula mboten saged mbantu napa-napa.” Mak Saudah mencoba mendinginkan hati Mak Zaitun yang telah cukup bersabar menghadapi tingkah laku Irun.
“Opo salahku to? Gusti Allah maringi ujian kaya ngene?”
“Istighfar, Mak. Istighfar…..”
Sementara itu, matahari masih semangatnya bersinar, Irun berpetualang ke pusat kota. Sendirian. Dari kejauhan ia melihat ada pesta jajan di lapangan kota. Pengunjung berjejal-jejalan. Dia memasuki keramaian itu. Mata Irun tertuju pada makanan yang berbentuk lingkaran besar dengan berbagai potongan-potongan daging dan sayur yang menawan hatinya. Di stand makanan itu tertulis “PIZZA HOT”.
Kelenjar ludah Irun mulai terangsang untuk mengeluarkan liur. Tapi, di kantong baju Irun tak ada uang serecehpun. Ia tergoda dengan dompet merah muda yang ada di saku celana milik perempuan yang sedang berjalan di depannya. Ia raih dompet itu dengan jurus bayangan. Namun jurusnya masih payah. Alhasil banyak orang yang memergoki. Hampir-hampir bocah berkulit kusam itu jadi bulan-bulanan pengunjung pesta jajan jikalau seorang pemuda berparas bersih tidak segera menjadi pahlawan penolong Irun.
Irun diajak ke tempat kediaman pemuda yang bernama Syafa’. Dilihatkannya sebuah panorama yang berkesan di hati Irun. Rumah sederhana yang memiliki halaman luas penuh pepohonan dengan beraneka ragam mainan anak-anak. Di sana juga banyak anak-anak seusia Irun yang sedang bermain, belajar dan mengaji.
Irun enggan kembali ke rumahnya dan tidak mau menyebutkan kepada Syafa’ dimana alamat rumahnya. Syafa’ tidak bisa memaksa, ia memperbolehkan Irun tinggal di pondok kecil itu. Irun begitu tunduk dengan pemuda yang murah senyum itu. Setiap aktivitas yang Syafa’ lakukan, Irun mengamatinya. Ia kagum dengan kelembutan dari Syafa’. Tanpa sadar, ia juga turut mempraktikan aktivitas yang sering dilakukan Syafa’. Tilawah, membaca buku, memotong rumput di halaman, mengepel, mencuci pakaian bahkan memasak.
٭٭٭
Mak Zaitun dan Syifa kalang kabut. Sudah dua minggu Irun tidak pulang. Ia menanyakan keberadaan Irun ke seluruh tetangganya bahkan ke kampung sebelah. Namun, hasilnya nihil.
Sementara di tempat lain, Irun sedang dilanda bahagia. Ia dan teman-teman di pondok kecil itu diajak Syafa’ untuk bertamasya keliling pegunungan. Syafa’ menyebarkan benih-benih keimanan dalam hati anak-anak. Lewat lisan dan gerak tubuhnya, ia bangkitkan fitrah manusia dalam diri insan-insan kecil di hadapannya.
Irun yang duduk di barisan paling depan, mulai berkaca-kaca hingga akhirnya setetes bulir air di matanya jatuh membasahi bumi. Allah Maha membolak-balikan hati. Kini, Dia benar-benar menetapkan hati Irun, hati seorang bocah yang kering akan pengakuan terhadap ilah-Nya. Anak kecil yang beranjak remaja itu takluk di hadapan Tuhan-Nya. Ia baru teringat akan apa yang telah ia lakukan di masa lampau. Ayahnya, Ibu kandungnya, Mak Zaitun dan kakak tirinya, Syifa. Ia menangis tersedu sedan.
٭٭٭
Dalam guyuran hujan yang sangat rapat, terdengar suara mesin motor di sela-selanya. Remang kedengarannya. Mak Zaitun dan Syifa saling menatap dengan wajah bertanya-tanya.
“Siapa, Mak?” tanya Syifa kepada emaknya yang sedang menjahit bajunya yang sobek.
“Tidak tahu, Nduk. Coba kau hampiri.”
“Iya, Mak.” Ketukan pintu dan salam bersahutan di balik pintu. Syifa mendekat dan menjawab salam. Seketika itu Syifa memperoleh sesosok tubuh yang sangat dirindukannya. Tatapan Syifa beralih ke sosok pemuda di sebelah Irun. Tanpa mempedulikan apapun, Syifa meraih tubuh Irun. Syifa peluk tubuhnya dengan erat, adik yang telah lama menghilang dari pandangannya kini berada dalam rengkuhannya.
“Emak mana, mbak?” tanya Irun dengan lembut. Syifa terharu mendengarnya. Syifa mempersilakan Irun dan Syafa’ masuk ke surganya. Syifa selalu menancapkan di sanubarinya dengan ungkapan “Baitii Jannatii, Rumahku Surgaku”.

Malam itu, tetesan-tetesan air hujan mengiringi tetesan air mata yang mengalunkan takbir. Semakin deras guyuran hujan, semakin mendalam makna takbir yang dirasakan. Mak Zaitun membayangkan wajah suaminya yang tersenyum. Akhirnya, harapan Pak Karjo akan keberkahan nama anaknya dapat terwujud. Khoirunnas. Sebaik-baik manusia.

"Khoirunnas anfauhum linnaas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya."

Maaf, Jilbab Aifa Bukan untuk Trend

Sebut saja Aifa (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswi muslim di fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam pada salah satu universitas di kota atlas, Jawa Tengah. Lembaran baru dalam kehidupannya menjadi seorang mahasiswi, menjadi sejarah barunya kelak setelah lulus wisuda. Karena dalam kehidupannya kali ini, titik tolak perubahannya terjadi.
Seperti mahasiswi muslim Fmipa pada umumnya, ia juga mengenakan selembar kain penutup kepala yang dikenal dengan kerudung. Kain yang menurut para ahli agama adalah sebagai identitas sekaligus simbol keislamannya. Aifa sudah terbiasa dengan kain penutup kepalanya. Tak merasa risih, tak merasa gerah atau takut kena penyakit yang menyerang kepala yang katanya sih sirkulasi udara bisa tertahan di kain dan tidak lepas ke udara bebas. Namun nyatanya, selama ini ia merasa sangat tertolong dengan kehadiran kerudung di kepalanya. Karena kulit kepalanya terhindar dari sengatan matahari langsung dan sinar UV yang dapat menyebabkan kanker kulit.
Ada lagi, mitos yang mengatakan bahwa dengan berkerudung, kulit akan mudah berketombe. Namun Aifa tak percaya dengan hal itu, karena dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan barat menyimpulkan bahwa ketombe disebabkan oleh bakteri, bukan karena kain kerudung!
Aifa memang tipe orang yang sangat mudah menerima perubahan. Mungkin sangat berbeda dengan orang lain yang butuh berbagai cara untuk menerima suatu hal yang baru. Dari sinilah, ia mengamati dan menganalisis mengapa banyak mahasiswi di fakultasnya yang menggunakan kerudung berukuran sangat lebar? Sampai-sampai ada yang menyebutnya kain taplak atau kain sprei? Apa buat tren masyarakat sekarang sejak kemunculan artis cantik Oki Setiana Dewi di film ketika cinta bertasbih yang diangkat dari novel karya Habiburahman El Shirazy? Jadi, banyak yang ngikutin fashionnya?
Butuh analisis yang lebih jauh lagi bagi Aifa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Dia hanyalah mahasiswi baru di fakultas itu. Yah, mungkin karena keturunan ‘genetis’ kali ya, saat ada orang yang makai kerudung lebar, kemudian diikuti junior-juniornya yang pengen kaya seniornya, istilah di perkembangan psikologi manusia yaitu imitasi.
Pertanyaan-pertanyaan Aifa terjawab saat ia tak sengaja mengikuti kajian keputrian di masjid kampus. Aifa mendengar dan menyimak dengan baik setiap penuturan dari pembicara kajian tersebut. Tergetar hatinya saat pembicara menyampaikan sebuah petikan surat cinta dari Allah:
“…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” [QS. An-Nuur 24:31]
Dan juga di surat al-Ahzab ayat 59:
“Wahai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyanyang.”
Ya, Aifa sadar. Aifa sadar bahwa segala yang berasal dari Tuhannya pasti baik untuk dirinya di dunia dan kelak di fase hidup yang banyak diingkari oleh manusia-manusia yang lalai, yaitu akhirat. Aifa tidak mau mengingkari kata hatinya, bahwa surat yang baru saja ia dengar dari pembicara, datangnya berasal dari Rabb semesta alam, Rabb yang telah menciptanya, Ilah yang telah menjadi sesembahannya selama ini. Mengapa Aifa harus enggan untuk mengikuti perintahNya?
Ya, Aifa sadar. Sepulang ini Aifa harus membeli kain jilbab atau kerudung yang lebih lebar lagi, meski uang jajan untuk kehidupan di tempat perantauan ini masih sangat terbatas untuk makan dan biaya foto copy atau ngeprin tugas kuliah, tapi Aifa harus tahu prioritas. Kebutuhannya sekarang ialah menutupkan kain hingga menutupi dadanya, tidak sebatas di kepala. Dan ia harus mencari kain yang tebal dan longgar. Bukan yang tipis menerawang dan ketat.
Aifa membuka hati yang telah ia kunci sendiri selama ini, Aifa bersyukur karena Dia membimbing Aifa hingga ia sadar. Tidak hanya tahu. Tidak hanya wacana. Tidak hanya ikut-ikutan tren. Tapi, sebagai bukti cinta dan ketaatannya kepada Rabb yang telah menciptakannya melalui kedua orangtuanya, bukti ketundukannya kepada Rabb yang terus memberinya nasi, air putih, udara, tempat tidur, pakaian dan segala hal yang ia miliki dan ia nikmati selama ini tetapi lupa ia syukuri, lewat berjilbab.
Setelah Dia membukakan pintu hidayah itu, Aifa semakin mudah dalam menerima ilmu-ilmu agama, ia makin bersemangat dalam menuntut ilmu. Menurut Aifa, segala ilmu yang ia dapatkan, muaranya hanya untuk Allah dan untuk kemajuan islam di dunia. Karena ia tahu, banyak saudara-saudaranya yang meskipun sudah kuliah di universitas yang dipenuhi dengan ilmu keislaman, namun akhlaknya jauh dari nilai-nilai islam.



(semoga menginspirasi muslimah di dunia ini)
Ikutilah majelis ilmu yang ada di kampus saudariku, insya Allah banyak kebermanfaatan yang akan kita peroleh..., n_n apalagi sebagai calon ibu untuk mendidik anak-anaknya kelak...,

Lukisan Cinta Sang Mentor

Teruntuk engkau yang baru memulai berbagi dalam perjalanan dakwah ini......
- - - - -
Masih terbayang kuat wajah-wajah saudara baru kami, para mentee yang hadir dalam kehidupan baru kami, sang mentor pemula. Entah kekuatan apa yang menggerakkan hati kami untuk mau mengikuti sebuah agenda seleksi penerimaan mentor baru sehingga status mentor pendidikan agama islam tersemat dalam diri kami. Berawal dari mentoring, kami dan saudara-saudara kami dipertemukan. Dalam lingkaran kecil yang penuh arti. Lingkaran, sebuah bangun datar dua dimensi yang memiliki jari-jari yang sama antara titik tengah dengan titik di sekelilingnya. Memiliki diameter yang sama antara titik satu dengan titik di depannya, dan begitu rapat antara titik satu dengan titik di sampingnya.

Pertama kali berjumpa dengan para mentee, sekujur tubuh terasa kaku, lisan menjadi kelu. Apakah pantas kami mentor? Dengan memperkuat komitmen bahwa kami harus bermanfaat bagi orang lain dengan sedikit hal yang kita punya. Mungkin, banyak yang menanyakan, ilmu agamanya sedikit kok berani-beraninya ngajarin orang? Tidak, Allah Yang Maha Mengetahui, lebih tahu apa yang ada di dalam diri orang, dan Allah Maha Berkehendak punya hak untuk memberikan hidayah kepada siapapun dengan perantara siapapun dan bagaimanapun caranya. Karena Allah, pemilik otoritas tertinggi bagi hambanya dan akan menunjukkan jalan-jalan keislaman dan keimanan bagi siapapun yang senantiasa terus mau berbagi dengan sesama.
Pertemuan pertama dengan para mentee, kami ingin menghadirkan sesuatu yang ‘menggoda’ mereka. Karena kesan pertama akan menjadi pijakan ke langkah berikutnya.  Usai mentoring perdana, kami mengevaluasi kegiatan mentoring dari salam pembuka hingga penutup. Ternyata ada sesuatu hal yang terlewat, semoga jadi catatan untuk pertemuan berikutnya. Kami berusaha menangkap ekspresi wajah para saudara baru kami selama acara. Ada yang semangat, ada yang datar, ada yang rasa ingin tahunya tinggi, dan ada pula yang kurang atensinya. Inipun jadi catatan kami, perhatian seperti apa yang harus kami persembahkan untuk saudara-saudara kami?
Pertemuan selanjutnya, beberapa saudara baru kami tidak dapat hadir. Ada yang izin, ada yang tidak. Demikianlah dinamikanya, kami berusaha mengedepankan khusnudhon, semoga di pertemuan selanjutnya yang tidak berkesempatan hadir, dapat duduk kembali bersama kami di lingkaran kecil ini. Lingkaran yang dinaungi sayap-sayap malaikat yang tak terlihat oleh kasat mata, yang di sana para malaikat mengamini do’a-do’a kita selama kita duduk khusyu’mengingatNya.
Pernah diungkapkan dalam sebuah hadits ketika seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki kepentingan di suatu majelis ilmu (bukan bagian dari mereka) atau yang datang hanya dengan membawa diri saja? Rasul mengatakan bahwa merekapun tetap akan memperoleh keberkahan darinya. Apalagi yang meniatkan sejak awal dan larut dalam nuansa ruhiyahnya? Allahu akbar!
Selama pertemuan indah itu, kami berusaha mengukir cinta di hati mereka, para mentee yang kami sayangi. Cinta yang membekas di hati, cinta yang dalam karena Allah. Dan berharap hati mereka beresonansi dengan hati kami. Menyatu dan melebur dalam cintaNya.
Kami senang, kala kami tak dapat menjawab pertanyaan mentee kami. Ini berarti, kami harus menanyakan kepada orang yang lebih faham tentang hal itu. Dari situ pulalah kami belajar. Kami senang, kala kami harus mencari ide-ide baru untuk menyampaikan materi supaya mudah diterima oleh mereka. Kami senang, jika bacaan alqur’an mereka lebih baik dari kami, berarti kami bisa belajar juga darinya. Kami tak kan pernah malu untuk belajar dari mentee kami. Karena kamipun sedang belajar. Tak ada perbedaan di lingkaran ini. Kami senang, kala ada sms dari mentee, “Kak, kapan kita mentoring lagi? Aku menanti-nantikan perjumpaan kita kembali” atau “Kak, aku telah belajar tentang sesuatu hal di mentoring kali ini.” Allahu akbar! Sungguh indah kata-kata itu. Kamipun rindu dengan pertemuan itu. Dan kesenangan itu, kami kembalikan kepadaNya yang telah memberkahi aktivitas kami yang sederhana tapi penuh makna, mentoring.
Jika Allah menitipkan nikmat kepada kami, kami ingin membagikannya pula kepada mereka. Supaya merekapun dapat menikmatinya. Kami ingin, ukhuwah islamiyah terbentuk di lingkaran mentoring ini. Kami saling mengenal, saling memahami, saling menolong dan saling mendahulukan saudara satu sama lain (kecuali dalam hal ibadah). Terbayang wajah mentee kami di do’a-do’a kami, mengharap kebaikan-kebaikan juga melekat pada diri mentee-mentee kami. Kami berusaha menerima apa yang ada di dalam diri mentee kami, dan berupaya menanamkan cinta akan islam di hati mereka. Indahnya…,
Kami malu jika datang terlambat. Kami malu jika tidak mampu memberikan keteladanan. Kami malu jika mereka tidak dapat tumbuh-berkembang dengan baik. Kami malu kepada Allah. Ketika kami harus membersihkan hati-hati mereka, maka kami harus membersihkan hati kami terlebih dahulu. Dan senantiasa meminta kepada Allah untuk diberikan rahmat dariNya, sehingga kami dimudahkan dalam menyampaikan ilmu dan mereka dimudahkan dalam menerima sekaligus menginternalisasi ilmu.
Kami tersenyum kala mentee kami memperoleh prestasi. Prestasi dalam peningkatan ruhiyah, jasadiyah dan fikriyah. Kami bersedih jika mereka mengalami penurunan prestasi. Kami ingin, mentee kami mengembangkan sayap kesuksesannya di jalan yang diridhoi oleh Allah swt. Kami berharap, kami dikumpulkan kembali oleh allah swt di syurgaNya kelak, dengan wajah yang berseri-seri. Dan kami bersyukur kepada Allah yang sudah menautkan hati kami dengan mentee kami. Karena kami tak kan mungkin dapat menautkan hati di antara kami meskipun kita membeli hatinya dengan dunia seisinya. Jikapun ada orang yang merasa tertautkan hatinya dengan orang lain bukan karena Allah, maka tautan hati itu akan lepas di akhirat kelak dan akan menjadi musuh satu sama lain. Namun di mentoring ini, kami ingin menguatkan tautan hati karena Allah semata, bukan karena yang lain. Insya allah. Jika di pertengahan atau di akhirnya ada mentee kami yang melepaskan diri, kami harap suatu saat Allah akan mengembalikannya ke lingkaran ini dengan keadaan yang lebih baik.

Kanvas, cat dan kuas yang berada di genggamanmu telah siap untuk membuat karya lukisan yang menawan. Lalu, siapkah dirimu untuk menorehkan warna yang pertama dan melanjutkan lukisan cintamu hingga akhir?


---teruntuk para mentor yang masih menjaga kemurnian niatannya karena Allah dan menginginkan perubahan---

Mentoring Short Story: Gue Makin Keren, Boy!


Pagi itu beribu-ribu mahasiswa muda beranjak dari kos yang selama satu setengah bulan ini membersamai perjuangan mereka. Perjuangan melawan kerinduan kepada keluarga yang dicintai. Perantauan memang tantangan baru bagi sebagian besar mereka. Kampus hijau Universitas Negeri Semarang ini akan menjadi sahabat baru bagi kehidupan manusia yang tergugah atau terpaksa meraup ilmu yang lebih banyak di bangku kuliah. Udara kampus yang sejuk mengiringi langkah kaki mereka ke Auditorium, di sana akan digelar studium general pengambil mata kuliah umum pendidikan agama islam.
Auditorium kala itu dipenuhi pelangi kain. Seketika ruangan menjadi lautan manusia. Di pojok belakang kanan ruangan, bercakaplah dua orang cowok.
“Hai, Boy. Lo berangkat juga?” tanya seseorang berjumper biru tua bertuliskan Rangga di bagian dada sebelah kanan kepada cowok yang baru saja duduk di sebelahnya.
“Eh Lo, Rangga. Iya nih, niatnya sih searching logistik, biasanya acara gede kayak gini ada snacknya kan? Lumayan kan Boy, bisa menghemat. Tapi talihat di meja presensi ngga ada.  Haaiish!!”
“Halah, lo dari kecil sampai sekarang tetep gitu aja. Gue suka gaya lo. Hahaha, Gilang, Gilang…..” Rangga dan Gilang hanyut dalam percakapan yang tidak berujung dan berhenti kala MC mulai menganyunkan suara di depan microphone dengan suara yang menggelegar penuh semangat.
Di akhir acara, semua peserta berkumpul dengan mentor –asisten PAI kegiatan mentoring- di kelompoknya masing-masing. Rangga dan Gilang berhimpun di satu kelompok, bersama teman-teman yang lain dari enam fakultas berbeda. Haikal dari FIP. Adit dari FMIPA. Billy dari FE. Syarif dari FT. Jono dari FIS. Buntar Simanjuntak dari FH. Rangga dan Gilang masing-masing berasal dari FBS dan FIK. Dari sinilah lukisan kisah baru dalam sejarah mereka akan dimulai. Dalam lingkaran yang rapat itu, duduk bersama mereka seorang pemuda berbaju putih dan berparas teduh. Mas Ridwan. Kehadirannya akan menjadi pelengkap cerita dalam sejarah mereka berdelapan yang tidak akan pernah terlupa hingga akhir hayat. Di awal pertemuan ini, mereka saling berkenalan satu sama lain. Mulai dari nama, asal kota, tanggal lahir, hobi, cita-cita, hal-hal yang disukai dan tidak disukai hingga karakter pribadi. Tidak lain supaya proses ta’aruf ini dapat menjadi pondasi ukhuwah islamiyah yang kuat bagi mereka.
▒ ▒ ▒
Langit hari ini begitu muram. Seakan-akan ia sangat sedih dan ingin meluapkan tangisannya ke bumi. Namun sepertinya ikatan dua atom hidrogen dan satu atom oksigen itu masih bisa ditahan untuk tetap berada di awan. Rangga masih sibuk dengan skateboard miliknya. Mengilaukan bagian-bagian deck yang ia rasa terlihat masih kotor tertempeli debu akibat dipakai seharian kemarin. Mengelap griptape dengan kain yang sudah dicelupi air hangat sedikit. Sore ini seharusnya ada jadwal mentoring bersama tujuh teman lainnya, tapi ia tak bergairah menghadirinya.
Selesai bercengkerama dengan skateboardnya, ia beralih interaksi dengan blackberry pemberian papanya dan memencet tombol call di kontak Gilang.
“Haiii, Boy. Yuuuk kita ke tempat biasa.” Ajak Rangga
“Bukannya sore ini kita mentoring perdana ya, Boy? Lo ga mau berangkat?” Gilang terheran.
“Halaah, ngga usah lah. Apa sih enaknya? Cuma duduk ndengerin ceramah doang, Boy. Boring. Mendingan kita skating. Gimana?” kilah Rangga.
“Wah, Boy! Jadi setan lo, hehe. Yaaa lah, gue juga agak males nih. Ketemuan di taman rektorat ya jam empat. Mentoringnya di MUA kan? So, ngga bakal ketemu mereka dah.” Terang Gilang
“Okelah. Siip. Cerdas lo, Boy.”
Rangga memang anak perantau asal ibu kota yang begitu dimanja. Keluarganya yang kaya raya menghadirkan berjuta kenikmatan dunia bagi dirinya. Mau apapun tinggal mengucapkan mantra di hadapan para pelayan, dalam sekejap cling cling! langsung tersedia di hadapan mata. Setiap pekan rekening tabungannya bertambah tiga juta! tak pernah ia mengalami sesak napas karena kanker (kantong kering). Tinggal menyedot uang dengan kartu ATMnya saja, sreeeet, lembaran-lembaran merah itu langsung keluar dari mesinnya. Bergeser 160 derajat, Gilang hanyalah putra dari keluarga sederhana. Kiriman dari keluarganya sering macet. Supaya menghemat pengeluaran biasanya Gilang hanya nongkrong di kucingan, kecuali kalau ada rezeki datang barulah ia mampu memenuhi status kebutuhan gizinya. Traktiran.
Mereka berdua bersahabat sejak kecil. Meski berasal dari latar belakang yang sangat berbeda, mereka senantiasa saling melengkapi. Hanya saja ada satu hal yang kurang dari mereka, sentuhan islami. Pergaulan mereka kering akan nilai-nilai ilahiah.
▒ ▒ ▒
Di jalanan taman rektorat itu, Rangga dan Gilang asyik berskating. Bergerombol dengan skateboarder yang lain. Mereka saling menunjukkan kepiawaian dalam memainkan skateboard di bawah kendali tubuhnya terutama kaki. Keseimbangan tubuh di atas skateboard sangat dibutuhkan, supaya ia tetap meluncur dengan baik. Komunitas skateboard ini memang tidak sedikit menorehkan prestasi. Para anggotanya sering memenangkan ajang perlombaan di berbagai kesempatan.
Selagi Gilang asyik dengan papan kesayangannya, Rangga terpaku. Dari kejauhan tampak sekelompok manusia yang tak asing baginya. Waduw! Mereka teman-teman mentoring Rangga!
“Woy, Boy. Gilang! Kata lo, temen-temen mentoringnya di MUA. Malah mereka jalan-jalan ke sini?” teriak Rangga. Gilang menghentikan laju wheelnya. Teman-teman mentoringnya semakin mendekat kepada mereka berdua. Keduanya nyengir kuda.
“Bener, Boy. Lo dapat sms juga kan kalau mentoringnya di MUA? Kenapa mereka ke sini?” Bisik Gilang kepada Rangga dengan tetap memasang wajah ‘mengapa’ dan membalas tatapan lekat dari Mas Ridwan dan kawan-kawan yang kini hanya berjarak dua meter dengan mereka berdua.
“Mentoring yuk,” ajak Mas Ridwan kepada keduanya. Kawan komunitas Rangga ada yang menceletuk keras, “dah sana mentoring dulu, Boy! Yar alim. Hahahahaha”
“Hehe, Mas Ridwan. Kok ke sini Mas?” tanya Gilang.
“Ya, memang rencananya mentoring di bawah tugu sutera. Tetapi, Mas ngundang kalian di MUA dulu. Terus jalan bareng-bareng ke sini sambil ngobrol. Mas kira kalian ngga bakal berangkat jadi kami tinggal. Eh, ternyata kalian berdua sudah di sini duluan. Masyaa Allah. Afwan, jadi menunggu lama ya?”
“Ow, hehehe.” Gilang makin salah tingkah.
Kedua bola mata Rangga melirik ke sepasang mata Gilang. Gleekk, mereka berdua hanya bisa menelan ludah. Mau tidak mau mereka harus menerima ajakan Mas Ridwan. Melingkarlah mereka di bawah tugu Unnes Sutera. Siluet senja yang mengintip dari tiga pohon akasia yang berjajar menyinari majelis ilmu itu. Tiga burung perkutut meloncat dari satu tempat ke tempat yang lain di sekitar majelis itu. Indah. Meskipun demikian, di dalam majelis itu masih ada dua anak Adam yang terlihat tidak menikmati serangkaian acara, namun Allah tetap akan memberikan pahala kepada semuanya. Begitulah islam. Banyak pahala mudah dicari, namun sedikit saja yang mau mengejar Allah. Padahal ketika kita mendekat kepadaNya dengan berjalan, Dia akan mengejar kepada kita dengan berlari.
Mas Ridwan dengan tulus memberikan nasihat dan motivasi kepada semua mentee. Di mentoring perdana, dia berusaha membangun keterikatan hati dengan para mentee. Mencoba meraba-raba titik persamaan dan kemampuan mempertemukan muara yang sama dari aliran sungai yang berbeda itu butuh pengalaman dengan jam terbang yang tinggi, kepekaan yang mendalam.
▒ ▒ ▒
Pertemuan demi pertemuan mentoring berlalu. Rangga dan Gilang selalu berusaha untuk membolos, namun skenario Allah berkata lain. Selalu saja Mas Ridwan dan enam teman satu mentoringnya datang di manapun mereka berada. Lagi-lagi Mas Ridwan minta janjian di tempat X, tetapi pindah ke tempat Y di mana Rangga dan Gilang berada. Selalu begitu. Pernah ditemui di tempat futsal, GPP (gazebo perpustakaan pusat), embung, maupun bukit cinta di salah satu fakultas tapi Mas Ridwan biasa menamainya bukit ukhuwah.
“Lang, gue bener-bener males berangkat ke MUA sekarang. Kita makan bareng aja yuk. Gue traktir.” Ajak Rangga kepada Gilang.
“Traktir? Mau dooong. Hhmm, tapi sayang, Ngga. Kalau kita ngga berangkat mentoring sekali saja. Kata Mas Ridwan bakal  seperti puzzle yang ngga utuh, bolong-bolong. Ngga bakal menjadi gambar yang indah. Kata Mas Ridwan, Allah akan mendatangkan para malaikat dalam majelis yang dibacakan ayat-ayat cintaNya dan mengamini do’a-do’a manusia yang ada di majelis itu.”
“Haiish! Lama-lama lo jadi ustadz. Jadi, mau ngga nih gue traktir?”
“Hhhmm, gimana ya? lapeeer banget siih perut gue. Oke deh. Cabut!” akhirnya Gilang kalah dengan hawa nafsunya. Ia merelakan tidak menghadiri mentoring hanya karena sepiring nasi dan segelas minuman! Syetan memang selalu akan menggoda manusia untuk dijauhkan dari ketaqwaan. Seberapa kuatkah manusia dalam memenangkan iman dalam dirinya?
Rangga dan Gilang memilih warung lesehan sebagai tempat menafkahi perut keduanya. Sambil menanti pesanan, mereka asyik ngobrol. Biasanya mereka ngobrolin skateboard, tapi kali ini mereka sibuk membicarakan karakter teman-teman satu mentoringnya. Tumben sekali mereka mau menilai orang lain. Mulailah mereka menilai satu per satu.
“Menurut gue, Adit itu cerdas sih. Tapi kadang sok tahu gitu. Ngeluarin rumus-rumus GJ kalau berpendapat di mentoring.” Terang Gilang.
“Ya, gue sepakat. Tapi gue paling suka ma Si Buntar dari Batak itu. Paham banget sama hukum. Kalau Papa gue tahu ada anak kayak gitu, bakal langsung dijadiin konsultan hukum. Sueer deh. Hahaha…”
“Hai, Boy! Jangan lupain tu si Jono. Ngga kalah canggih. Jawanese buanget! Haha…, tapi Boy, dia tu supel banget, dari mereka berenam, cuma si Jono yang mau berinteraksi dengan kita. Jarang banget kan ada yang mau pedekate ma orang-orang kayak kita.” Jelas Gilang.
“Siapa lagi Boy? Teman mentoring kita?” tanya Rangga.
“Dua lagi siapa ya?” Gilang balik tanya.
“What? Dua? Tiga kaleee.” Rangga mengoreksi.
“Oh ya, tiga. Ada Syarif, Billy dan Haikal.” Jelas Gilang.
“Gimana, Boy? Mereka tu gimana menurut lo?”
“Waah, kurang tahu banget sih.”
“Payah lo, Boy. Kalau Billy tu yang bendahara mentoring kita tuh. Yaaa sukanya narikin infaq! Iuran faqsa! Hahaha… sabar banget dah narikin infaq ke kita-kita” Rangga terkekeh dan melanjutkan analisis pribadinya, “kalau Haikal itu hobi banget mengamati kita-kita. Lirikan matanya tajem banget, setajam silet! Hahaha… pantes banget dia masuk Psikologi. Sering ngasih kita kejutan-kejutan aneh di mentoring. Gila!.. Nih nih Boy, satu lagi, yang terakhir si Syarif. Kalemnya luar biasa. Sampai-sampai kita jarang lihat dia tertawa, bisanya cuma bisa senyum, he, tipis banget lagi. Hahaha. Ditambah lagi kalau ketemu sama cewek, nunduuuuuk terus. Lagi nyari recehan jatuh di bawah kali ya?? hehehe… untungnya ngga pernah nabrak tiang listrik! Bisa benjut tuh jidat!!”
Gilang hanya bisa memandang Rangga dengan wajah ‘mengapa’nya lagi.
“Woi, Boy!! Napa lo mandang gue kaya gitu?” tanya Rangga.
“Ngga kenapa-napa. Heran aja. Sejak sahabatan sama lo dari kecil, lo ngga pernah merhatiin orang. Dulu cuek bebek banget. Sekarang malah lo paham banget ma teman-teman mentoring kita. Sampai sedetail itu, gue aja ngga gitu-gitu banget. Apa mentoring sudah mempengaruhi lo jadi orang yang makin berusaha memahami orang lain ya?’
“Apa sih lo kata!! Sudahlah, tu makanannya sudah datang. Santap, Boy!” kilah Rangga.
Gilang masih menatap lekat wajah sahabatnya itu. Dia menemukan ada perubahan dalam diri Rangga, walau sangat kecil tetapi sangat berbeda.
“Assalamu’alaykum, yaa Ikhwahfillah….,” sebuah gelombang suara Mas Ridwan memecahkan konsentrasi Rangga dan Gilang yang masih asyik dengan lele bakarnya.
“Wa’alaykumussalam…” Rangga dan Gilang menjawab salam hampir bersamaan, “eh Mas Ridwan…. Hehee… ada Syarif dkk juga… hehehe. Kok bisa sampai sini, Mas? hehe” Gilang mengernyitkan dahi.
“Alhamdulillah, medan magnet kita begitu kuat. Kutub-kutub yang berlawanan saling melekat satu sama lain dengan kuat. Lagi-lagi kalian menanti kami ya? masya allah” Adit menanggapi pernyataan Gilang yang terakhir.
Alhasil di senin sore itu, mereka kembali melingkar di tempat berbeda, warung lesehan. Sembari menanti waktu berbuka bagi yang menjalankan puasa sunah. Duduk dalam majelis mentoring yang rapat. Tilawah, kultum, taujih, diskusi, mutaba’ah, dan do’a penutup.
▒ ▒ ▒
“Ya, Mak. Yaa, Gilang mengerti, Mak. Iya. Wa’alaykumussalam.” Gilang menutup telepon dari emaknya. Emak Gilang menyampaikan kalau perusahaan keluarga besar Rangga mengalami kebangkrutan karena tertipu oleh pihak asing yang melakukan kerja sama dalam proyek yang bernilai trilyunan rupiah. Semua aset dan saham tak ada satupun yang mereka kuasai. Tidak tersisa. Kini, kedua orangtua Rangga sementara menumpang di rumah Emak Gilang. Gilang diminta untuk menjaga berita ini terlebih dahulu untuk sementara waktu dan tidak menyampaikan ke Rangga karena dapat menyebabkan sahabatnya shock. Artinya, Rangga kini bukan lagi tuan raja yang dapat menyentuh benda di sekitarnya menjadi emas. Sekarang rangga hanyalah mahasiswa pada umumnya, yang harus berjuang keras mencari penghasilan dengan caranya sendiri. Dan selama sembilan belas tahun ini, Rangga belum pernah mengalaminya walau hanya sekadar iseng-iseng saja.
Gilang bingung bukan kepalang. Kepada siapa ia harus mengadukan hal ini? Harus menjaga rahasia yang menimpa pada keluarga dari sahabatnya sendiri? Tapi Gilang butuh orang yang mampu memberikan saran-saran kepadanya. Ya, Gilang akan menceritakan hal ini kepada Mas Ridwan, sepertinya Mas Ridwan dapat memberikan solusi. Gilang sudah tsiqah dengan Mas Ridwan. Mungkin akan ada nasihat yang bagus untuk dirinya. Ya, apalagi sore ini ada jadwal mentoring. Mungkin seusai mentoring, Gilang bisa meminta waktu sedikit kepada Mas Ridwan untuk mendengarkan permasalahan yang menimpa Rangga.
Tok tok tok. . . ,  tok tok tok. . . pintu kamar kos Gilang diketuk seseorang. Kamar Gilang langsung terhubung dengan teras, kos yang kecil dan sederhana.
“Yaaa masuk, tidak dikunci.” Teriak Gilang.
Ckreeek… pintu terbuka. Rangga muncul di balik pintu.
“Pagi, Boy!!! Sorry, nggangguin lo nih pagi-pagi. Gue mau ngajak lo ke skateboarding day hari ini. Gue ndaftar ajang lomba skateboard. Lo wajib nonton gue ya, gue daftar di kelas freestyle skating, keren Boy! bakal banyak gaya yang bakal gue tunjukin dan memukau dewan juri! Flatground Ollie, the Ollie kickflip, the healflip, 360 flip, short noses, slide rails, dan gue mau nunjukin large soft wheels!!! Keren banget pastinya, Boy!!! lo wajib nonton! Sekarang lo ganti baju dan berangkat sama gue! Ayo, Boy!” Rangga begitu menggebu-gebu. Keoptimisannya dalam memenangkan lomba sangatlah besar. Dia tidak empat lima kali ini mengikuti ajang sejenis, tapi puluhan kali! Sejak SMA dia sudah dikenal sebagai pemain skater yang ulung. Mulai belajar skate dari SD kelas 6 dan terus diasah kemampuannya pada waktu SMP hingga sekarang ini.
Gilang semakin bingung. Padahal sore ini dia bermaksud meminta pendapat secara langsung dari Mas Ridwan. Dengan gagap akhirnya Gilang berani berkata,
“Hmm, Hhmm… Rangga, bu bu bukannya kita ada…. Ada… ada mentoring ya?” ragu-ragu Gilang mengucapkan hal itu.
“Apa?! Mentoring! Ngga banget deh. Ayolah ikutan gue aja. Lo ngrelain sahabat lo ini berjuang sendirian. Gue butuh lo Lang wat nyupport gue di sana! Ini kesempatan emas buat gue untuk membuktikan latihan gue selama ini!” Rangga mulai naik pitam.
“Ma’af, Ngga. Kali ini gue milih berangkat mentoring aja. Ma’af.” Gilang menundukkan wajah. Kemarahan Rangga hampir saja menggerakkan tangannya untuk menghantamkan kepalan tangannya ke kepala Gilang, tapi tertahan di udara. Rangga hanya bisa meremas kedua tangannya makin kuat, dan mengalihkan energi kepalannya ke arah cermin di dekatnya hingga hancur berkeping-keping. Pyaarr!! Rangga melenggang ke luar kamar Gilang dan menutup pintu dari luar dengan sangat keras. Braaakkk!!
“Ma’afin gue, Ngga. Gue ngga bermaksud merusak persahabatan kita. Gue ngga bisa nyeritain kondisi keluarga lo sekarang ini ke lo. Ma’af, Ngga. Ma’af. Ma’af.” Buliran bening menetes dari tepi indra penglihatan Gilang dan dua buliran jatuh ke pecahan cermin di dekat Gilang.
Di keramaian skate park, Rangga duduk dengan tatapan kosong. Dia menyesal atas apa yang sudah dia lakukan di kamar Gilang. Tak seharusnya dia marah-marah seperti itu. Tapi, Rangga masih memendam kekesalan yang sangat dalam. Mas Ridwan yang selama ini menghantui kehidupannya lewat mentoring, dia jadikan kambing hitam. Ya, Mas Ridwan sudah berhasil memisahkan persahabatan mereka berdua. Pikirnya. Gilang kini berani memilih ikut mentoring daripada menemani temannya di ajang bergengsi ini. Jahat, pikirnya.
“Yaa, selanjutnya…! Kita panggil peserta freestyle skating berikutnya dengan nomor urut TIGA!!!” suara dari pengeras suara menggema, “Yaaa nomor urut TIGA!! Kami panggil lagi nomor urut TIGA!!! Segera mendatangi arena!!!”
Seketika Rangga terbangun dari lamunannya. Dia bergegas menuju arena. Satu per satu gaya dia atraksikan dengan baik. Dan saat dia akan melakukan 360 flip, hal yang tidak diinginkan itu terjadi. Brrruuk!!! Tubuh Rangga tersungkur. Jatuh dari ketinggian empat meter dengan sangat keras. Ternyata axle nuts pada skateboard Rangga terlepas. Wheels bagian tail lari menggelinding ke luar arena. Rangga mengerang kesakitan dan tidak bisa bangun. Ambulance datang dan menghantarkannya ke rumah sakit terdekat.
▒ ▒ ▒
Orangtua Rangga menunggui buah hatinya siang malam. Gilang juga sering menjenguk sahabatnya. Kondisi Rangga sangat memprihatinkan, kedua kaki Rangga harus digips, dan selama lima bulan ke depan harus menjalani fisioterapi. Bersyukur daerah kepalanya tidak mengalami benturan yang berarti. Hanya sedikit memar.
Di luar kamar perawatan, orangtua Rangga berdiskusi dengan Gilang.
“Dik Gilang, Ibu berterima kasih, kamu sudah menemani Rangga selama ini. Terima kasih, terima kasih.” Mama Rangga bercucuran air mata, Papa Rangga hanya bisa menenangkan istri yang ia cintai dengan merangkulnya.
“Iya, Bu. Gilang juga minta ma’af atas apa yang terjadi pada Rangga.” Terang Gilang, “Oh iya, Bu. Untuk biaya perawatan Rangga biar Gilang yang mengusahakan.”
“Tidak, dik. Nanti Ibu dan Bapak Rangga akan mencarikan pinjaman. Gilang fokus kuliah saja.” Mama Rangga kembali sesunggukan.
Tidak selang berapa lama, Mas Ridwan dan keenam teman mentoring Gilang datang dari arah pintu masuk ruang Anggrek. Menghampiri Gilang, Mama dan Papa Rangga.
“Assalamu’alaykum, Pak, Bu, Gilang….” Sapa Mas Ridwan.
“Wa’alaykumussalam…” Jawab mereka bertiga sacara bersamaan.
“Kami teman-teman Rangga di mentoring kampus Unnes, Bu. Bagaimana kabar Rangga, Bu?” Tanya Mas Ridwan kepada Mama Rangga.
“Sudah agak baikan kata dokter,” jawab Mama Rangga.
“Oh begitu, Alhamdulillah. Begini, Bu. Insya Allah pekan ini ada kuliah ahad pagi atau KAP. Insya allah, saya akan meminta tolong kepada ketua KAP untuk menggalang dana dari para panitia dan peserta untuk membantu pengobatan Rangga. Semoga bisa membantu meringankan beban Bapak dan Ibu sekeluarga.” Mas Ridwan dengan lembut menuturkan tentang berbagai hal aktivitas yang sudah Rangga lakukan bersama teman-teman yang lain saat mentoring. Mas Ridwan juga menjelaskan perkembangan Rangga selama ini. Mama Rangga sangat berbahagia akan hal itu.
“Mas Ridwan, terima kasih sekali. Selama ini kami berdua memang sangat jarang mendidik Rangga dengan nilai-nilai islami. Kami hanya memenuhi kebutuhan fisiknya saja. Kami sering meninggalkan dia di rumah dengan para pembantu. Kami baru tersadar setelah Allah menegur kami dengan kebangkrutan di perusahaan dan bertempat tinggal di rumah Ibunya Gilang. Tetangga baru Bu Gilang sangat baik hati, setiap hari mendatangi rumah untuk memberikan bingkisan walau hanya semangkok sop. Lewatnya pula kami bisa mengenal islam dengan baik. Sungguh, kami berdua sangat menyesal. Dan baru kali ini kami berdua, Ibu dan Bapak Rangga, tersadar bahwa Islam memang harus dijadikan jalan hidup di dunia.” Mama Rangga semakin terisak. Papa rangga juga mulai terhanyut suasana. Menitikkan air mata.
“Ya, bu. Semoga Allah senantiasa melindungi dan memberikan rahmat kepada kita semua, khususnya keluarga Ibu.” Senyum Mas Ridwan mengembang.
“Aamiin….” Semua yang hadir di sana mengamini do’a Mas Ridwan. Dan seolah malaikat pengawas juga mengamini do’anya. Rumah sakit HARAPAN UMAT itu menjadi saksi akan keterikatan jalinan ukhuwah islamiyah antar muslim yang sebelumnya tidak saling mengenal sama sekali. Dengan ikatan akidah, semuanya begitu dekat. Takaful itu sudah menjelma di kehidupan nyata mereka. Merasa senasib sepenanggungan.
▒ ▒ ▒
Sudah satu bulan Rangga menjalani fisioterapi. Tapi dia masih harus mengenakan kursi roda. Kecelakaan di arena skateboard itu membuat dia larut dalam renungan selama perawatan. Keterbatasan gerak tubuh menggiringnya untuk lebih banyak menggerakkan saraf-saraf otaknya untuk aktivitas berfikir. Mas Ridwan selalu membawakan buku-buku islami yang sangat menarik kepada Rangga setiap kali menjenguk. Terpaksa Rangga harus melahap isi buku-buku itu selain mengonsumsi obat-obat yang super pahit tiga kali sehari. Gilang, Syarif, Billy, Adit, Buntar, Jono dan Haikal bergantian menemani Rangga di rumah sakit. Dalam menjaga Rangga, mereka membagi jadwal dalam tiga shift. Shift satu dari pagi hingga dzuhur, shift dua dari dzuhur sampai menjelang magrib dan shift tiga dari magrib hingga shubuh. Mereka juga mengadakan mentoring setiap pekannya di sana. Dan kali ini Rangga tidak bisa membolos, dan memang kini dia sudah merelakan diri untuk berada di majelis itu selama kurang lebih satu hingga dua jam tiap pekannya.
Tibalah hari closing KAP, mereka tidak ingin melewatkan momen indah ini. Kini semuanya telah tersadar, bahwa mentoring satu semester ini tidak akan berhenti sampai di sini saja. Tetapi akan terus berlanjut hingga akhir hayat. Ya. Akan terus bergulir, berganti-ganti mentor. Bahkan Mas Ridwan pernah menceritakan, bisa saja mentor kalian hari ini bakal jadi teman mentoring kalian atau jadi mentee kamu di keesokan hari. Tentunya butuh keistiqomahan. Long life education.
Serangkaian acara bergulir secara rapi. Panitia sangat menjaga ketat waktu supaya acara closing KAP bisa sukses dan efektif tanpa ada sedetikpun waktu yang disia-siakan. Di penghujung acara, tiba-tiba MC memanggil nama Rangga untuk maju ke atas panggung. Sontak dia kaget. Dengan tetap berada di atas kursi rodanya dia menuju ke panggung ditemani Gilang. Setelah berada tepat di tengah panggung, MC menyerahkan microphone kepada Rangga. Rangga menerimanya dengan tak lupa balasan sebuah senyuman tulus yang menyungging di kedua bibirnya kepada MC.
Entah kenapa, Rangga hendak berusaha berdiri dan menyingkirkan kursi roda dari jangkauannya. Hal ini mengejutkan seluruh peserta KAP. Gilang langsung membantu Rangga untuk menopang tubuhnya agar tidak roboh, tapi Rangga menolaknya. Kini Rangga benar-benar dalam posisi berdiri. Tegap. Ia menghela nafas yang cukup panjang dan meletakkan microphone tepat di depan mulutnya. Suasana di ruang auditorium menjadi sangat hening. Kalaupun ada seekor jangkrik yang mengerik saat itu, pastilah setiap orang di sudut manapun di ruangan itu mampu mendengarnya. Semua menantikan kata-kata yang akan meluncur dari mulut Rangga.
“Assalamu’alaykum, Boys and girls…” Sapa Rangga kepada semua audien. Bagai lebah yang mengerumuni sarangnya, jawaban salam menggaung di seantero sudut ruangan.
“Gue bingung mau bilang apa di depan sini. Gue terlalu ‘keren’ kan berada di depan sini? Kaki yang digips, dan ditemani kursi roda ini. Gue ngga pengen lo kasihan sama kondisi gue. Gue, punya perjalanan hidup yang aneh di kampus ini. Super aneh. Terutama saat bertemu dengan kalian pertama kali di studium general dulu. Kalian pasti punya cerita menarik di kelompok mentoring kalian masing-masing. Pun dengan gue. Izinkan gue ngenalin mentor gue. Mas Ridwan. Bisa berdiri Mas?” Mas Ridwan yang duduk di barisan depan bagian peserta putra, berdiri dengan malu-malu. Semua pasang mata yang ada di auditorium tertuju pada sosok pemuda itu. “Nah, dia mentor gue. Setiap gue mau mbolos mentoring, Mas Ridwan selalu datang di tempat gue berada. Lo pakai kaca benggala ya, Mas? Hehe. Gue sudah berhasil mbolos satu kali mentoring, dan akibatnya bisa kalian lihat sekarang ini. Kaki yang artistik. Bergypsum. Dan setelah itu gue ngga bisa mbolos lagi karena dipenjara di rumah sakit. Temen-temen mentoring gue yang njagain gue.”
Rangga melanjutkan, “Mas Ridwan, lo sekarang pakai baju putih yang sama dengan studium general dulu. Dan sikap lo masih sama seperti yang dulu. Lo sudah berhasil membuat gue jadi kaya gini, Boy. Moga aja, mentor-mentor lain bisa kaya lo. Gue ngga bakal melupakan apa yang telah lo perbuat sama gue. Gilang, Adit, Haikal, Syarif, Billy, Buntar dan Jono. You are my best superteam. Kalian sudah mewarnai hidup gue dengan cinta. Cinta kepada Allah, Rasul dan islam ini. Gue mencintai lo semua karena Allah, Boys. Dengan mentoring, gue bisa makin keren! Dan lo semua yang ada di ruangan ini juga bakal bisa makin keren! Asalkan lo istiqomah!!!” Seketika Mas Ridwan menghamburkan diri dari posisinya semula ke arah Rangga. Mas Ridwan merengkuh tubuh Rangga dalam pelukannya yang sangat erat. Gilang yang berada di sampingnya turut bergabung dalam pelukan itu. Dari arah-arah yang lain, Billy, Buntar, Adit, Haikal, Jono dan Syarif juga lari menuju panggung dan membuat lingkaran pelukan yang lebih besar. Mereka semua menangis. Peserta juga banyak yang terharu. Peserta putri terlihat banyak yang mengusapkan jilbabnya ke muka mereka, mengeluarkan tisu dan sapu tangan dari tasnya. Tak sedikit yang turut berpelukan dengan teman di sebelahnya. Peserta putra juga ada yang meneteskan butiran bening dari tepi bola matanya.
Di tengah suasana yang mengharu biru itu, salah satu mentor ikhwan berteriak keras, “Takbir!!!” Dan semua mentor yang lainnya serentak menjawab, “Allahu akbar!!!”
“Takbir!!!”, dijawab lagi oleh semua mentor dan mentee di ruangan itu “Allahu akbar!!!” hingga tiga kali “Takbir!!” dan dijawab lagi “Allahu akbar!!!” Suara takbir itu menggoncangkan Auditorum. Hari ini sudah lahir sosok-sosok pemuda yang begitu mencintai Rabbnya, Rasulnya dan agamanya. Membina diri melalui mentoring. Mentoring bukanlah segala-galanya, tetapi segala-galanya berawal dari mentoring. Yang keren, yang mentoring.


Sekian

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, karakter, tempat dan sebagainya sorry yaaaa n_n. Semoga bermanfaat. Dilarang menjiplak karya orang lain, hehe.